WAHANA BUDIDAYA CENDANA & GAHARU

Berita

Warga Oelomin Kembangkan Anakan Cendana

Posted by s edo wd on February 28, 2011 at 4:47 AM Comments comments (1)

 

kupang.tribunnews.com

 

Ditemui Pos Kupang, Senin (22/3/2010), Tinus Ola, salah seorang warga Oelomin, mengatakan, usaha pengembangan tanaman itu sudah digeluti sejak tahun 2002 silam.

 

Benih berupa biji cendana dibeli dari petani di SoE, kemudian disemaikan di Oelomin untuk selanjutnya dijual. "Saya dengan kakak yang mengembangkan usaha ini. Kami siapkan bibit cendana lalu dijual," ujarnya.

 

Dia menjelaskan, saat memulai usaha itu, mereka membeli biiji cendana di TTS dengan harga Rp 150.000,00/kg. Namun saat ni, harga benih itu sudah melonjak mencapai Rp 400.000,00/kg.

 

Tentang banyaknya anakan yang dikembangkan, dia mengatakan, dalam satu kilogram biji cendana, bisa menghasilkan 1.000 anakan. Tapi kalau ada yang mati, berarti masih sekitar 800 hingga 900 anakan.

 

"Biasanya, satu kilogram biji cendana itu kami semaikan dan kalau tumbuh bagus, akan menghasilkan 1.000 anakan. Tapi kalau ada yang mati, karena biji kurang bermutu, biasanya yang hidup sekitar 800 sampai 900 anakan," tuturnya.

 

Ditanyai harga satu anakan cendana di setiap polibag, Ola menyebutkan antara Rp 10.000,00 hingga Rp 15.000,00/polibag. Harga ini relatif murah dan dapat dijangkau oleh semua kalangan.

 

Selama ini, lanjut dia, pembelian anakan cendana itu selain dari masyarakat, juga dari pemeritah daerah melalui proyek pengadaan bibit anakan cendana. 

 

"Tahun lalu ada yang beli sampai 1.000 anakan. Sedangkan Pemerintah Propinsi NTT tahun 2008 beli sebanyak 5.000 anakan. Tanaman ini juga dibeli untuk dibawa ke luar NTT. bahkan pihak Undana dan LIPI juga beli dari kami," jelasnya.

 

Menurut Ola, usaha budidaya tanaman itu membutuhkan ketekunan dan ketabahan. Pasalnya, jika tidak dirawat dengan baik,  maka tanaman itu akan mati.

 

Soal bibit cendana yang pas ditanam, ia mengatakan, umur idealnya terhitung mulai dari pemindahan dari persemaian ke polibag, membutuhkan waktu lima hingga enam bulan.

 

"Umur ideal anakan di polibag saat kami jual, rata-rata lima bulan sampai  enam bulan. Tahun lalu banyak permintaan, tapi ia belum tahu permintaan tahun ini. Mudah-mudahan lebih baik lagi," ujar Ola.

 

Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika menggelar rakor dengan para bupati/walikota se-NTT di Aula Utama El Tari, Jumat (19/3/2010), menyebutkan, pemerintah akan memfokuskan pengembangan tanaman cendana di NTT.

 

"Pemerintah akan kembangkan tanaman cendana ini pada tujuh kabupaten sebagai kabupaten perrintis. Tujuh kabupaten  itu, yakni Kupang, TTS (Timor Tengah Selatan), TTU (Timor Tengah Utara), Belu, Sumba Timur, Flores Timur dan Kabupaten Alor," ujar Lebu Raya.

 

Dia menjelaskan, target pengembangan tanaman ini  126 hektar (ha) per tahun dengan rincian setiap desa mengusahakan 25 ha. Upaya ini sebagai wujud keseriusan pemerintah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membudidayakan cendana. (editor kro)


Perbanyakan Cendana (Santalum album Linn.) secara Kultur In-vitro dengan Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Sitokinin (BAP dan Kinetin)

Posted by s edo wd on December 29, 2010 at 10:08 AM Comments comments (0)

Cendana (Santalum album Linn.) merupakan hasil hutan kayu yang khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Timur (Timtim). Tanaman ini mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena dapat menghasilkan minyak atsiri dengan aroma spesif1k, sebagai bahan dasar parfum, sabun dan kemenyan serta mempunyai khasiat sebagai obat pereda kejang, mual dan demam. Keberadaan Cendana sekarang merupakan tanaman langka, hal ini tercatat dalam IUCN Red List 1994 merupakan Threatened Species. Oleh sebab itu segera dilakukan tindakan budidaya, salah satunya melalui kultur in-vitro dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) Sitokinin yaitu BAP (6-benzylaminopurine), Kinetin (6¬furfurylaminopurine) dan kombinasinya. Supaya mendapatkan perbanyakan Cendana optimal, maka penelitian ini perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian zat pengatur tumbuh kelompok Sitokinin yaitu BAP, Kinetin atau kombinasinya pada perbanyakan Cendana.

 

Kegiatan Penelitian berlangsung di Unit Kultur Jaringan Laboratorium Konservasi Tumouhan Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, selama 5 bulan mulai dari bulan Mei sampai September 2005. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 1 faktorial yaitu pemberian ZPT berupa BAP, Kinetin dan kombinasinya, diberikan pada media Murashige and skoog (MS) terdiri atas 10 perlakuan dengan masing-masing perlakuan 10 ulangan. Perlakuan Al (BAP 0 mg/I : Kinetin 0 mg/I), A2 (BAP 0.5 mg/I : Kinetin 0 mg/I), A3 (BAP I mg/I : Kinetin 0 mg/I), A4 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0 mg/I), AS (BAP 2.0 mg/I : Kinetin 0 mg/I), A6 (BAP 0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), A7 (BAP 0.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), A8 (BAP 1.0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), A9 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I), dan AIO (BAP 2.0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I). Peubah-peubah yang diamati dan diukur adalah pengamatan visual, jumlah tunas, jumlah buku, tinggi dan jumlah daun.

 

Berdasarkan hasil pengamatan visual terjadi kontaminasi, namun cukup rendah sebesar 17%. Eksplan berupa pucuk yang digunakan menunjukan gejala pencoklatan terutama pada bagian yang dipotorig. Terdapat pertumbuhan kalus, namun tidak mendominasi pada setiap perlakuan, hanya terdapat pada beberapa eksplan pada perlakuan A9 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I). Kerontokan daun terjadi hingga mencapai presentase 15.61%, kemudian dilakukan tindakan subkultur dengan dilakukan penambahan Glutamin sebanyak 100 mg/I pada media. Persentase rata-rata kerontokan daun mengalami penurunan sebesar 6.70%.

 

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT Sitokinin yaitu BAP memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, sedangkan Kinetin dan kombinasinya tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah tunas. Nilai rata-rata

 

pertambahan jumlah tunas terbesar terdapat pada perlakuan A9 yaitu media MS dengan penambahan BAP1.5 mg/I dan Kinetin 0.2 mg/I dengan angka sebesar 1.40, sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada perlakuan Al (BAP 0 mg/I : Kinetin 0 mg/1) dan A3 (BAP 1 mg/1 : Kinetin 0 mg/1) dengan angka sebesar 0.00.

 

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT BAP memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, sedangkan Kinetin dan kombinasinya tidak memberikan pengaruh terhadap pertambahan jumlah buku. Nilai rata-rata pertambahan jumlah buku terbesar terdapat pada perlakuan A9 (BAP 1.5 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I) yaitu 4.40, sedangkan pada perlakuan A6 (BAP 0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I) memberikan pengaruh terhadap rata-rata pertambahanjumlah buku terendah sebesar 1.50.

 

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT BAP memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, Kinetin memberikan pengaruh tidak berbeda nyata dan kombinasinya memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap tinggi eksp1an. Dapat dilihat nilai rata-rata pertambahan tinggi terbesar terdapat pada perlakuan A9 yaitu media MS dengan penambahan kombinasi BAP 1.5 mg/1 dan Kinetin 0.2 mg/I menunjukkan angka pertambahan tinggi sebesar 1.40 em, sedangkan nilai rata-rata pertambahan tinggi terendah terdapat pada perlakuan A6 dengan pemberian Kinetin 0.2 mg/1 menunjukkan angka pertambahan 0.48 em.

 

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian ZPT BAP, Kinetin dan kombinasinya memberikan pengaruh terhadap pertambahan jum1ah daun tahap ke-1. Rata-rata pertambahan tinggi terbesar terdapat pada perlakuan A3 yaitu Media MS dengan penambahan BAP 1 mg/I dengan angka pertambahan sebesar 13.20 helai, sedangkan nilai rata-rata terendah terdapat pada perlakuan A6 (BAP 0 mg/I : Kinetin 0.2 mg/I) dengan angka sebesar 2.80 helai.

 

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pemberian ZPT Kinetin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata, sedangkan BAP dan kombinasinya tidak berpengaruh terhadap pertambahan jum1ah daun pada tahap ke-2 pengamatan. Rata-rata pertambahan jumlah daun terbesar' terdapat pada perlakuan A4 yaitu media MS dengan penambahan BAP 1.5 mg/I dengan nilai sebesar 4.30 he1ai, sedangkan pertambahan jumlah daun terendah terdapat pada perlakuan A6 (BAP o mg/I : Kinetin 0.2 mg/1) dengan ni1ai 0.50 helai.

 

Seeara umum perlakuan A9 dengan pemberian ZPT kombinasi yaitu BAP 1.5 mg/I dan Kinetin 0.2 mg/I menunjukkan nilai rata-rata pertambahan terbaik pada peubah jum1ah tunas, jumlah buku dan tinggi eksp1an Cendana. Rata-rata pertambahan jum1ah daun tahap ke-1 ni1ai tertinggi terdapat pada perlakuan A3 dengan pemberian BAP konsentrasi 1 mg/1, sedangkan pertambahan jum1ah daun tahap ke-2 nilai tertinggi terdapat pada perlakuan A4 dengan BAP konsentrasi 1.5 mg/I. Penambahan Glutamin 100 mg/1 pada media dengan penambahan BAP dan Kinetin berhasil mengurangi kerontokan daun.

sumber:

http://eshaflora.blogspot.com/2010/04/perbanyakan-cendana-santalum-album-linn.html

 


 

NTT Tanam 4.750 Bibit Cendana

Posted by s edo wd on March 21, 2010 at 11:55 PM Comments comments (0)

Bibit cendana


KUPANG, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengembangkan 4.750.000 anakan pohon Cendana untuk mencegah kepunahan pohon beraroma wangi itu di bumi Flobamora, sebutan khasuntuk Flores, Sumba, Timor dan Alor.

    

"Pengembangan anakan cendana itu difokuskan pada tujuh kabupaten di NTT yang endemik Cendana," kata Gubernur NTT Frans Lebu Raya di Kupang, Minggu (21/3/2010), terkait upaya pemerintah untuk mengembalikan kejayaan NTTsebagai daerah penghasil Cendana di Tanah Air.

    

Gubernur Lebu Raya menguraikan, dari jumlah anakan tersebut, 2.800.000 anakan diantaranya akan dikembangkan pada lahan masyarakat seluas sekitar 3.500hektar yang menyebar di tujuk kabupaten tersebut. Sedangkan, 1.950.000 anakan Cendana sisanya untuk memenuhi kebutuhan dalam rangka mendukung gerakan massal menanam Cendana di semua kabupaten/kota di NTT.

    

Lebu Raya menjelaskan tujuh kabupaten endemik yang akan menjadi sasaran pengembangan tanaman Cendana adalah Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Sumba Timur, Belu, Flores Timur dan Alor.

    

"Langkah ini kami ambil untuk mencegah kepunahan kayu beraroma wangi itu di bumiNTT yang terkenal sebagai daerah penghasil Cendana terbesar di Indonesia," katanya.

    

Menurut Gubernur Lebu Raya, populasi kayu Cendana di wilayah provinsi kepulauan NTT yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan Australia itu, berkurang dratis bahkan cenderung mengarah pada kepunahan. Kondisi ini terjadi karena adanya kebijakan pengelolaan Cendana pada masa lalu yang kurang berpihak pada masyarakat lokal, sehingga masyarakat enggan untuk menanam atau membudidayakan kembali tanaman Cendana.

    

"Kami semua tahu populasi Cendana di daerah ini sudah sangat berkurang dan terancam punah. Kami tidak bisa berdiam diri menyaksikan kepunahan Cendana. Mari kita sama-sama dalam satu tekad mengembalikan keharuman Cendana di daerah ini," kataLebu Raya.

    

Menurut Gubernur Lebu Raya, rencana pengembangan Cendana ini tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi terfokus dengan sasaran lima desa setiap kabupaten endemik. "Setiap desa dibentuk satu kelompok beranggotakan 20 orang dengan tugas khusus untuk merawatanakan Cendana itu sampai panen," katanya.

    

Target pengembangan untuk setiap kabupaten, kata dia, rata-rata 125 hektare per tahun dengan perincian per desa seluas 25 hektare per tahun. Mengenai penyediaan bibit Cendana, dia mengatakan, bibit cendana akan disediakan melalui dana APBD II.

    

Pada tahun 2010, setiap kabupaten akan menyediakan bibit sebanyak 100.000 kecuali Flores Timur84.000. Sementara mulai tahun anggaran 2011-2012, semua kabupaten wajib menyediakan bibit sebanyak 100.000 anakan setiap tahun melalui APBD II dan akan didukung dengan dana APBD I, APBN dan bantuan lainnya seperti LSM, dunia usaha dan masyarakat.

    

Dia menambahkan untuk mendukung rencana pemerintah ini memang perlu ada gerakan untuk menyadarkan masyarakat tentang pengelolaan Cendana dengan cara meningkatkan kesadaran aparatur pemerintah dan masyarakat terhadap status, fungsi dan nilai penting dari Cendana.

 

sumber disini

Cara Menanam Pohon Cendana

Posted by s edo wd on March 18, 2010 at 2:20 PM Comments comments (12)


biji cendana

 

1.Rendam biji selama 2 malam / 48jam di dalam ember yang berisi air setengah ember. Setelah 2 hari perhatikan kondisi biji. Pisahkan biji yang tenggelam dan yang terapung karena biji yang tenggelam adalah yang berkualitas tinggi, sedangkan yang terapung adalah kurang berkualitas.

2. Sediakan semaian menggunakan tanah hitam yang telah digembur.

3. Taburkan biji yang telah direndam 2malam keatas semaian yang telah disiram (basah) dengan rata kemudian taburkan sedikit tanah hitam keatas biji. Pastikan tanah tidak menutupi keseluruhkan biji tadi.

4. Siram 2 kali sehari yaitu pagi dan sore, ini untuk mempercepat proses percambahan.

5. Sediakan Polibag kecil dengan menggunakan media tanah hitam.

6. Perhatikan semaian setiap hari, jika ada biji yang pecah dan keluar sedikit tunas,cepat-cepat pindahkan ke dalam polibag dengan cara mengorek biji bersama dengan tanah dan masukkan ke dalam polibag yang telah disiram (basah). Ulangi ini sehingga semua biji yang pecah habis dipindahkan ke polibag.

7. Setelah dipindahkan ke dalam polibag, siraman cuma perlu 2hari sekali, dan tempatkan polibag ditempat yang terlindung dari cahaya matahari yang terik.

8. Benih dapat ditanam ke tanah setelah tinggi 15cm atau lebih.

Anak pohon Cendana tidak memerlukan kawasan yang terlalu bersih, ia lebih suka di sekeliling semak atau ia tumbuh subur dibawah lindungan pohon2 tinggi. Seperti di dalam kebun karet / kebun buah-buahan.

9. setelah tinggi pohon Cendana mencapai 3m, bagian pucuk perlu berbunga / dipotong terus, ini adalah bertujuan pohon tidak tumbuh terlalu tinggi dan kualitas / cabang dapat diperlihara.

10. Pohon cendana matang pada tahun ke-8.


 


Pengembangan Tanaman Cendana

Posted by s edo wd on March 17, 2010 at 12:58 AM Comments comments (1)

Cendana

Santalum album L.


Nama umum

Indonesia:Cendana

Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

                     Sub Kelas: Rosidae

                         Ordo: Santales

                             Famili: Santalaceae

                                 Genus: Santalum

                                     Spesies: Santalum album L.



Pemilihan Umum 2009 memiliki asas One Man One Vote. Bersamaan dengan momentum Pemilu 2009, Presiden menargetkan, bangsa Indonesia harus bisa menanam One Man One Tree yang sudah dimulai sejak awal Februari 2009.Kegiatan menanam pohon sebetulanya sudah dimulai sejak tahun 2007.Targetnya pun berbeda setiap tahunnya. Tahun 2007, harus menanam 79juta bibit pohon, realisasinya 86,9 juta pohon. Berikutnya, pada 2008, target 100 juta bibit pohon, ternyata berhasil menanam 109 juta pohon.Tahun 2009 ini targetnya, sesuai dengan jumlah penduduk Indonesia, 230 juta jiwa, Bangsa Indonesia harus menanam sebanyak 230juta pohon.

Berkaitan dengan One Man One Tree, tanggal 12 Februari 2009 lalu, Menteri Kehutanan, M.S. Kaban bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur telah melakukan penanaman dan pencanangan pengembangan tanaman Cendana. Penanaman Cendana ini dilakukan di Desa Ponai, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pertimbangan menanam Cendana diDesa Ponai, selain kondisi dan waktu, juga didukung musim hujan masih sangat baik. Akses jalan menuju lokasi pun cukup baik. Selain itu, diDesa Ponai telah ada Kelompok Tani Cendana binaan Balai Penelitian Kehutanan Kupang yang bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana. Program rehabilitasi pohon Cendana di Nusa TenggaraTimur, adalah prakarsa Menteri Kehutanan di tahun 2006.

Saat pencanangan, telah dipersiapkan areala seluas 1,7 hektar dan bibit Cendana sebanyak 1.200 batang. Sebelumnya, pada minggu ketiga, Desember 2008 telah ditanam sebanyak 7.700 bibit Cendana yang disiapkan BPK Kupang dan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan PemuliaanTanaman Hutan (B2PBPTH) Yogyakarta di areal seluas 5,3 hektar dipekarangan dan kebun Masyarakat.

Untuk kesiapan bibit, sampai dengan September 2008, bibit generatifdi BPK Kupang sebanyak 10.000 batang dan siapa tanam pada bulan Desember 2008 . Sementara, BPDAS Benain Noelmina Kupang, juga memiliki bibit generatif sebanyak 20.000 batang yang siap ditanam pada bulan Desember 2008 lalu.

Sedangkan bibit vegetatif dengan kultur jaringan, B2PBPTH Yogyakarta telah menyiapkan sebanyak 700 batang dan siap tanam pada pertengahan tahun 2009 ini. Sementara bibit Cendana dengan kultur jaringan dari Puslit Bioteknologi LIPI saat ini baru dalam tahap multiplikasi dan baru siap tanam pada akhir tahun 2009 nanti.

Tanaman ini bisa tumbuh pada ketinggian 50 -1200 m dpl, dengan curah hujan 625 1625 mm/th dengan bulan kering 9-10 bulan. Saat ini populasi Cendana sangat mengkhawatirkan, terancam punah. Dari tahun 1987 – 1997,populasi pohono Cendana di NTT mengalami penurunan hingga 53,96%.

Kata Cendana, identik dengan wewangian untuk perawatan tubuh wanita.Ada minyak Cendana, rempah-rempah, aromatherapy, campuran parfum ataubahan dupa. Cendana adalah tumbuhan asli Indonesia yang tumbuh diPropinsi Nusa Tenggara Timur, seperti Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor,Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Cendana juga bisa dijumpai di Gunung Kidul, Imogiri, Kulon Progo, Bondowoso dan Sulawesi.

Cendana adalah, tanaman komoditi dan potensial bagi perekonomian diIndonesia. Nilai ekonomi itu didapat dari kandungan minyak (santalo) dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Melalui penyulingan, minyak Cendana dapat digunakan sebagai perawatan tubuh, obat-obatan dan bahan minyak wangi atau parfum tadi. Kayunya juga bernilai ekonomi, dapat digunakan sebagai kerajinan ukiran, patung, kipas, tasbih dan lain-lain.

Saat ini minyak Cendana banyak di ekspor ke Eropa, Amerika, China,Korea, Taiwan dan Jepang. Untuk produk kerajinan kayunya, masih untuk konsumsi dalam negeri saja. Setiap tahun, kebutuhan minyak Cendan dunia, sekitar 200 ton. Dari jumlah tadi, kebanyakan disuplai dariIndia, yaitu 100 ton (50 %). Sisanya dari Indonesia, Australia,Kaledonia Baru dan Fiji, masing-masing mensuplai 20 ton, jadi masing kekurangan sekitar 80 ton per tahunnya.

Jadi, Indonesia masih punya peluang untuk memenuhi kebutuhan Cendana dunia.

Sumber: menlh.go.id, sini