WAHANA BUDIDAYA CENDANA & GAHARU

Berita

Gaharu : Pohon Eksklusif Akan Diproduksi secara Lestari di Indonesia

Posted by s edo wd on December 28, 2010 at 8:04 PM Comments comments (1)

Indonesia merupakan negara produsen gaharu terbesar di dunia dengan kualitas terbaik. Pohon-pohon gaharu penghasil gubal (bagian terdalam dari batang pohon gaharu yang warnanya hitam, coklat hitam, coklat kemerahan dengan keharuman yang kuat) terbaik yang sangat sesuai dengan kondisi produksi alami di Indonesia mungkin sudah punah. Yang tertinggal adalah pohon-pohon yang memiliki sifat kerentanan yang lebih tinggi.

Gaharu merupakan komoditi elit hasil hutan bukan kayu yang saat ini diminati oleh konsumen baik dalam maupun luar negeri. Gaharu atau agarwood, aleawood, eaglewood dan jinkoh memiliki nilai jual tinggi. Kelangkaan pohon gaharu di hutan alam menyebabkan perdagangan gaharu asal semua spesies Aqularia dan Grynops di atur dalam CITES (Convention on International trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dan ekspornya dibatasi dalam kuota.

 

Saat ini, Indonesia diposisikan untuk mengambil peran aktif dalam menyelamatkan produksi gaharu dengan mengalihkan produksi gaharu alam ke gaharu buatan. Dengan demikian di masa yang akan datang, Indonesia akan memasuki era gaharu budidaya atau mengambil kata yang lebih popular gaharu “non-CITES quota”.

 

Dengan mengambil tema “Menuju Produksi Gaharu secara Lestari di Indonesia”, Fakultas Kehutanan dan Fakultas MIPA IPB bekerjasama dengan Departemen Kehutanan RI dan didukung oleh Sinarmas Forestry, Perhutani, International Timber Trade Organization, Asgarin dan Yayasan Kehati menggelar Seminar Nasional I Gaharu di IPB International Convention Center (12/11). Tema ini diambil sebagai ekspresi dari keprihatinan masyarakat pemerhati gaharu terhadap tuntutan dunia akan pentingnya produksi gaharu yang lestari di Indonesia.

 

Hadir dalam acara ini, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, SE, MM, untuk membuka acara, didampingi Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr.Ir. Yonny Koesmaryono, Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Dr. Hendrayanto, Dekan Fakultas MIPA IPB, Dr. Hasim, pejabat dari Dephut RI, peneliti, dan pemerhati gaharu Indonesia.

Menhut mengatakan kekayaan alam Indonesia harus kita lestarikan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Selama ini bagi hasil dari produksi gaharu selalu merugikan petani gaharu. Misal dari hasil penjualan gaharu 40% untuk pemilik modal, 20% untuk pemberi ijin,  sisanya untuk proses produksi dan petani. Ini tidak akan mensejahterakan rakyat,” tambahnya.

 

Mengingat pengumpul gaharu alami adalah penduduk penghuni sekitar hutan, maka sistem produksi yang akan dikembangkan sebaiknya berbasis masyarakat tepian hutan. Oleh sebab itu tata kelola wilayah yang memberikan insentif pada masyarakat tepian hutan perlu dipertimbangkan.

 

“Pohon gaharu pasarnya sangat besar. Gaharu yang mengandung “damar wangi” dan bila dibakar mengeluarkan aroma yang khas dapat diolah menjadi minyak gaharu, cindera mata, dupa makmul dan hio, parfum, obat-obatan dan untuk bahan kosmetik. Negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand adalah pasar gaharu. Sehingga gaharu perlu dilestarikan dan yang mengembangkannya harus pakar-pakar dari IPB,” ujarnya saat diwawancara.

Sejak tahun 2003, kuota ekspor gaharu menurun terus menjadi sekitar 125 ton/tahun untuk tiap species. Dalam batasan kuota ini, produksi hanya dapat memenuhi sekitar 10-20% permintaan pasar, sehingga peluang pasar masih terbuka.

 

Menhut menambahkan untuk menjaga kelestarian alam sekaligus keberlanjutan ekspor, selain harus dikonservasi, gaharu juga harus diproduksi secara buatan pada pohon gaharu hasil budidaya. Pohon gaharu telah ditanam lebih dari 1750 ha di seluruh Indonesia dan ini menjadi modal dasar menuju produksi gaharu secara lestari di Indonesia.

Sementara itu, produksi gubal gaharu melibatkan mikroorganisme (sejenis cendawan yakni fusarium dan acremonium). Mekanisme pembentukan oleo resin (damar wangi) gaharu merupakan hasil interaksi antara pohon dan mikroorganisme tadi.

Dengan proses budidaya, petani menyuntikkan cendawan ke batang pohon gaharu saat umurnya menginjak lima tahun. Dari infeksi cendawan tersebut, pohon gaharu melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senyawa oleo resin.

 

Satu kilogram gubal gaharu dengan kualitas terbaik dijual dengan harga 30 juta rupiah. Gaharu jenis Aquilaria malaccensis daerah penyebarannya di Sumatera (10 pohon/ha) dan Kalimantan (9 pohon/ha). Untuk jenis Aquilaria filarial daerah penyebarannya di Papua (60 pohon/ha), Maluku (30 pohon/ha) dan Sulawesi (7 pohon/ha). Dan untuk jenis Gyrinops sp daerah penyebarannya di NTB (8 pohon/ha) dan NTT (7 pohon/ha). 

Sumber: http://www.ipb.ac.id  ; /  http://www.asahangaharu.blogspot.com/


Gaharu Hybrid (Aquilaria mallcrassna)

Posted by s edo wd on March 18, 2010 at 5:30 AM Comments comments (4)

       


Telah hadir hybrid gaharu yang disebut Aquilaria malcrassna. Hybrid gaharu ini dihasilkan dari perkawinan antara Aquilaria malaccensis (induk betina) x A. crassna (Jantan). Penetapan hybrid didasarkan ukuran biji yang berbeda dari ke dua induknya. Semoga kehadiran hybridini akan menambah kekayaan aroma wangi dupa gaharu di masa datang.

Departemen Kehutanan Kembangkan Teknologi Penghasil Gaharu Kualitas Super

Posted by s edo wd on March 17, 2010 at 12:14 AM Comments comments (10)

SIARAN PERS

Nomor : S.213/PIK-1/2008

DEPARTEMEN KEHUTANAN KEMBANGKAN TEKNOLOGI PENGHASIL GAHARU KUALITAS SUPER


Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan berhasil menemukan teknologi produksi gaharu yang mampu menghasilkan gaharu dengan kualitas AB yang mempunyai harga jual tinggi. Kualitas ini masih dapat ditingkatkan apabila waktu pemanenan diperpanjang sehingga dapat menghasilkan gaharu kualitas super.

Gaharu kualitas AB tersebut dihasilkan pohon yang diinduksi selama 2 tahun. Pohon tersebut dapat menghasilkan gubal gaharu 4 kilogram kualitas AB dan 8 kilogram kualitas kemedangan. Dari hasil panen tersebut diperkirakan nilai jual sebatang pohon berusia 7tahun yang telah diinduksi tidak kurang dari Rp 20 juta. Di pasaran dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super, Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B,dan C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan (A, B, C) dan Suloan.

Teknologi yang dihasilkan diyakini dapat meningkatkan nilai ekonomis pohon secara signifikan yang selanjutnya dapat menjadi insentif kepada masyarakat maupun pengusaha untuk menanam dalam jumlah yang lebih besar. Badan Litbang Kehutanan telah melakukan penelitian gaharu sejak tahun 1984 dengan mencari jenis-jenis mikroba pembentuk gaharu. Hingga kini Badan Litbang telah memiliki lebih dari20 isolat mikroba penghasil gaharu dari berbagai daerah di Indonesia,dengan 4 isolat diantaranya dipastikan memiliki kemampuan pembentuk gaharu secara konsisten.

Saat ini Puslitbang Departemen Kehutanan bersama para pembudidaya pohon gaharu di berbagai daerah telah menanam pohon penghasil gaharu tidak kurang dari 1 juta batang.

Melihat keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan teknologi ini, International Tropical Timber Organizational (ITTO) menaruh perhatian khusus dan menjalin kerjasama untuk membantu percepatan pengembangan gaharu, baik dari segi budidaya maupun teknologi induksinya. Kerjasama ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitar hutan agar mampu membudidayakan pohon penghasil gaharu sehingga tingkat kesejahteraannya dapat meningkat secara signifikan sekaligus menjadi salah satu upaya menjaga kelestarian hutan.


Jakarta, 29 April 2009                  

Kepala Pusat Informasi Kehutanan,

Ttd.                       

M a s y h u d                

NIP. 19561028 198303 1 002  

sumber


Tantangan Agribisnis dari Si Wangi Gaharu

Posted by s edo wd on March 16, 2010 at 11:52 PM Comments comments (7)


bibit Aquilaria malaccensis

Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan berwarna coklat muda sampai hitam yang terdapat diantara sel-sel kayu. Tanaman yang bisa menghasilkan gaharu biasa disebut Pohon Gaharu. Sebaran Pohon Gaharu di Asia diantaranya adalah di India, Laos, Burma, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri Pohon Gaharu tersebar di Pulau Irian, Sumarta, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, maluku dan sedikit di Jawa bagian Barat.

Adapun jenis Pohon Gaharu dan penyebarannya di Indonesia adalah:

1. Aquilaria malaccensis (Sumatra dan Kalimantan)

2. Aquilaria beccariana (Sumatra dan Kalimantan)

3. Aquilaria microcarpa (Sumatra dan Kalimantan)

4. Aquilaria filaria (Irian dan Maluku)

5. Aquilaria cumingiana (Sulawesi)

6. Aquilaria tomntosa (Irian)

7. Grynops audate dan Grynops podocarpus (Irian)

8. Grynops versteegii (Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Irian)

9. Wikstoemia androsaemifolia (Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan

Sulawesi).

 

Dan masih banyak lagi beberapa spesies pohon penghasil Gaharu yang tersebar di kedalaman hutan di Indonesia.

Dari beberapa spesies pohon penghasil gaharu diatas, pohon dari marga Aquilaria memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan yang paling banyak diburu adalah Aquilaria malaccensis karena gaharu yang dihasilkan memiliki mutu yang sangat baik.

 

Manfaat Gaharu

 

Gaharu mengandung essens yang disebut sebagai minyak essens (essential oil) yang dapat dibuat dengan eksraksi atau penyulingan dari gubal gaharu. Essens gaharu ini digunakan sebagai bahan pengikat (fixative) dari berbagai jenis parfum, kosmetika dan obat-obatan herbal. Selain itu, serbuk atau abu dari gaharu digunakan sebagai bahan pembuatan dupa/hio dan bubuk aroma therapy.

Daun pohon gaharu bisa dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh. Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh gaharu juga ampuh sebagai obat anti mabuk.

Ampas dari sulingan minyak dari marga Aquilaria di Jepang dimanfaatkan sebagai kamfer anti ngengat dan juga mengharumkan seluruh isi lemari. Oleh masyarakat tradisional Indonesia, gaharu digunakan sebagai obat nyamuk, kulit atau kayu gaharu dibakar sampai berasap. Aroma harum tersebutlah yang tidak disukai nyamuk (sumber: majalah Trubus).

 

Cara Menanam dan Pemeliharaan

 

Pohon penghasil gaharu secara umum tidak memerlukan syarat tumbuh yang khusus, pohon dapat tumbuh dengan baik pada struktur tanah yang ringan sampai berat dengan terkstur lempung ataupun pasir. Secara ekologi dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 - 2.400 meter dpl, kelembapan 60 – 80 % dengan curah hujan 1.000 – 3.500 mm/th.

Penanaman dimulai dengan membuat lubang tanam dengan kedalaman 30 cm, panjang dan lebar lubang 30 cm. Setelah lubang terbuat, isi lubang dengan pupuk organik matang sampai kedalaman lubang menyisakan 15 cm. Kemudian taburkan 1 sdm akarisida (furadan, marshal, atau rugby) untuk melindungi tanaman dari serangan anjing tanah (orong-orong), gasir, dan hama lainnya yang hidupnya di tanah. Setelah penaburan akarisida, bibit tanaman dikeluarkan dari polybag dan usahakan tanah dalam polybag jangan sampai pecah.

Masukan bibit dengan tinggi minimal 30 cm ke lubang dan lubang diurug dengan tanah yang dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1. Setelah lubang tertutup oleh tanah, taburkan lagi akarisida di sekeliling tanaman sebanyak 1 sdm kemudian siram dengan air. Pemberian akarisida akan melindungi tananam pada masa kritis yaitu sebelum tanaman berumur lebih dari 3 bulan.

Pemeliharaan dilakukan dengan penyiangan dan pemberian pupuk organik setiap 2 bulan dan pemberian pupuk NPK pabrik setiap 4 bulan sampai tanaman berumur 3 tahun dengan dosis disesuaikan. Setelah tanaman berumur lebih dari 3 tahun pemberian pupuk dilakukan setiap 6 bulan dengan dosis 250 gram/pohon ditabur disekitar pangkal pohon kemudian ditutup dengan tanah.

Usahakan tanaman mendapatkan air yang cukup dan jangan sampai terendam air pada saat musim hujan.

 

Pembentukan Gubal

 

Gubal gaharu akan dihasilkan oleh pohon penghasil gaharu yang terinfeksi mikroba fusarium sp, datangnya mikroba fosarium sp ini bisa secara alami dan dengan menyuntikan mikroba ke pohon yang tentunya bertujuan agar pohon terinfeksi fusarium sp. Selang waktu 1-3 tahun setelah disuntik gubal gaharu baru terbentuk.

 

Kelas, harga dan pemasaran gaharu

 

Permintaan pasar terhadap gaharu terus meningkat. Selain kebutuhan peribadatan berberapa agama, gaharu juga digunakan oleh masyarakat Arab untuk sebagai siwak. Kondisi iklim yang panas dan kegemaran mengkonsumsi daging membuat tubuh mereka bau menyengat sehingga wangi gaharu digunakan sebagai pangharum.

Harga gaharu sendiri ditentukan berdasarkan kelas, adapun kelas-kelas dalam gaharu secara garis besar adalah:

1.Gubal

a.super: hitam merata, kandungan damar wangi tinggi, aroma kuat

b.super AB: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi cukup, aroma kuat

c.sabah super: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

d.kelas C: hitam banyak garis putih, kepingan kayu tipis, rapuh

 

2.Kemedangan

a.tanggung A: coklat kehitaman, kandungan damar wangi tinggi, aroma agak kuat

b.sabah I: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

c.tanggung AB: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

d.tanggung C: kecoklatan bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

e.kemedangan I: kecoklatan bergaris putih lebar, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat

f.kemedangan II: putih keabu-abuan bergaris hitam tipis, kandungan damar wangi kurang, aroma kurang kuat

g.kemedangan III: putih keabu-abuan, kandungan damar wangi kurang,aroma kurang kuat

 

3.Abu/cincangan yang merupakan potongan kayu kecil hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu

(sumber: majalah Trubus)

Harga gaharu terus meningkat seiring dengan permintaan pasar, namun ketersediaan gaharu dari alam terus menurun, hal inilah yang mendasari budidaya gaharu. Harga gaharu super pada tahun 2001 4-5jt/kg, saat ini melambung menjadi 10-15jt/kg. Tapi sayang, peluang seperti ini Cuma diketahui oleh beberapa gelintir orang saja.

Adapun negara tujuan eksport gaharu diantaranya adalah Singapura, Timur Tengah, Taiwan, Jepang, Hongkong, Korea dan Malaysia. Adapun eksport terbanyak ke negara Singapura baru Timur Tengah di urutan ke-2.

 

gambar gaharu

sumber

Serbuk Inokulan Gaharu Akan Dipatenkan

Posted by s edo wd on March 16, 2010 at 11:38 PM Comments comments (1)

Kapanlagi.com - Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbuntan) Provinsi Bangka Belitung telah mendaftarkan serbuk inokulan gaharu yang berfungsi menghasilkan gubal gaharu untuk dipatenkan sebagai produkciptaan Disbuntan Bangka Tengah. "Saat ini kami sedang menunggu proses dikeluarkannya hak paten serbuk inokulan gaharu dariJakarta dalam upaya memberikan perlindungan hukum atas hasil penelitian tim laboratorium Disbuntan Bangka Tengah," ujar Kepala Bidang Kehutanan Disbuntan Bangka Tengah, Ali Imron, di Koba, Kamis.

Ia mengatakan, serbuk inokulan gaharu yang disuntikkan pada kayu gaharu merupakan hasil penelitian tim laboratorium Disbuntan Bangka Tengah yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Penelitian untuk membuat serbuk inokulan gaharu telah dilaksanakan sejak 2004 hingga 2008 dan kami bekerjasama dengan tenaga dari IPB dalam menciptakan serbuk inokulan tersebut," katanya.

Sementara itu, Mifta Hulkhoir, Staf SDM Bidang Perkebunan Disbuntan BangkaTengah, menambahkan, serbuk inokulan gaharu yang diciptakan tim laboratorium Dinsbuntan terbuat dari campuran serbuk gergaji, nasi setengah matang dan cendawan.

"Bahan tersebut dicampur dandiolah melalui mekanisme tertentu sehingga dapat menghasilkan gubal gaharu pada tanaman gaharu yang disuntikkan serbuk tersebut," katanya.

Ia mengatakan, umur tanaman gaharu yang disuntik minimal berusia enam tahun dengan diameter batang minimal 30 centimeter.

"Antara titik penyuntikan harus memiliki jarak yakni titik atas dan bawah minimal 10 centimeter, kiri dan kanan minimal lima centimeter, setelah lima bulan disuntik akan muncul gubal gaharu," katanya.

Menurut dia, tanaman gaharu memiliki berbagai macam jenis namun untuk wilayah Bangka Tengah hanya terdeteksi dua jenis gaharu.

"Jenis tanaman gaharu bermacam-macam seperti kemendangan, teri, supertanggung, super dan king super namun untuk gaharu di Bangka Tengah baru terdeteksi dua jenis saja yakni gaharu kemendangan dan teri," katanya. (kpl/cax)

berita

Teh Gaharu Berkasiat

Posted by s edo wd on March 16, 2010 at 11:14 PM Comments comments (0)

TEH GAHARU, teh yang terbuat dari daun muda gaharu pilihan ternyata tidak hanya enak diminum, cocok dinikmati pada suasana dingin, seperti malam hari atau saat musim hujan tiba. kesaksian orang yang pernah minum teh gaharu diantaranya adalah:

 

1. Obat untuk mengurangi rasa sakit kepala (pusing).

2. Meningkatkan stamina bagi pria.

3. Meningkatkan stamina dan kesehatan, tidak mudah masuk angin.

4. Obat penyakit dalam (sakit perut, dll)

 

Teh Gaharu, dapat digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan beberapa penyakit, dengan ijin Yang Maha Esa.

 

ke depan kandungan aktif dalam teh gaharu ini harus diketahui, untuk memberikan justifikasi ilmiah kepada khalayak. Usaha untuk mengetahui kandungan bahan kimia dalam teh gaharu, dalam waktu dekan akan dilakukan oleh Alam Tropika berkerja sema dengan lembaga yang berkompenten.

 

Tidak semua jenis gaharu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan teh gaharu, hanya jenis yang tergolong dalam famii Themelaeaceae,dengan genus tertentu yang dapat digunakan sebagai bahan untuk pembuatan teh gaharu.

 

daun gaharu pilihan dapat diproses menjadi teh hijau gaharu (agarwoodgreen tea) dan teh hitam gaharu, masing-masing mempunyai cita rasa yang khas.

 

produk teh ini tersedia di Alam Tropika.

sumber disini

 


Gaharu, Aromatik Termahal di Dunia

Posted by s edo wd on March 12, 2010 at 11:38 PM Comments comments (7)


Gambar Gaharu


Gaharu adalah bahan aromatik termahal di dunia. Harga gaharu kualitas baik di tingkat konsumen di pasar internasional, sekitar US $ 5 sd. 15 per gram, (Rp 45.000,- sd. 135.000,-). Sedemikian tingginya nilai produk gaharu, hingga penjualannya menggunakan bobot gram. Bukan ons atau kg. Gaharu adalah bahan parfum, kosmetik dan obat-obatan (farmasi). Parfum diperoleh dari hasil ekstraksi resin dan kayunya. Gaharu sudah dikenal sebagai komoditas penting, semenjak jaman Mesir Kuno. Mumi mesir, selain diberi rempah-rempah (kayu manis, cengkeh), juga diberi cendana dan gaharu.Dalam injil, disebutkan bahwa kain kafan Yesus (Isa Al Masih), diberi Aloe. Istilah ini bukan mengacu ke Aloe vera (lidah buaya), melainkan kayu gaharu.

Itulah sebabnya kayu gaharu juga disebut sebagai aloeswood (kayu aloe). Nama dagang lainnya adalah agarwood, heartwood, dan eaglewood. Di pasar internasional, gaharu murni diperdagangkan dalam bentuk kayu, serbuk dan minyak (parfum). Kayu gaharu bisa dijadikan bahan kerajinan bernilai sangat tinggi, atau untuk peralatan upacara keagamaan. Serbuk gaharu digunakan untuk dupa/ratus, dan minyaknya merupakan parfum kelas atas. Serbuk gaharu sebagai dupa akan dibakar langsung dalam ritual keagamaan. Baik Hindu, Budha, Konghucu, Thao, Shinto, Islam dan Katolik. Kayu gaharu disebut sebagai kayu para dewa. Aroma gaharu karenanya dipercaya mampu menyucikan altar dan peralatan peribadatan lainnya.

Selain itu dupa gaharu juga dimanfaatkan untuk mengharumkan ruangan, rambut dan pakaian para bangsawan. Aroma gaharu akan digunakan sebagai aromaterapi di spa-spa kelas atas. Selain untuk ritual keagamaan, parfum dan kosmetik, produk gaharu jugasering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik. Baik pemanfaatannya, terlebih lagi proses pencariannya dari alam. Pengambilan gaharu dari hutan, memang selalu dilakukan secara tradisional, dengan berbagai ritual dan kebiasaan setempat. Pencarian gaharu di lokasi sulit, harus menggunakan pesawat terbang atau helikopter. Beberapa kali pesawat terbang dan heli pencari gaharu, hilang di hutan belantara di Kalimantan, hingga memperkuat kesan mistis produk gaharu.

# # #

Gaharu adalah getah (resin, gubal) dari pohon genus Aquilaria, yang tumbuh di hutan belantara India, Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Cina Selatan.Sampai saat ini, Indonesia masih merupakan pemasok produk gaharu terbesar di dunia. Meskipun populasi tumbuhan Aquilaria cukup besar, namun tidak semua pohon menghasilkan gaharu. Sebab resin itu baru akan keluar, kalau tanaman terinfeksi oleh kapang (fungus) Phialophora parasitica. Akibat infeksi, tanaman mengeluarkan getah yang aromanya sangat harum. Getah ini akan menggumpal di dalam batang kayu. Para pencari gaharu menyebut kayu dengan resin ini sebagai gubal. Tanaman Aquilaria yang tidak terinfeksi Phialophora parasitica, tidak akan beraroma harum.

Genus Aquilaria terdiri dari 22 spesies: A.(Aquilaria) agallocha; A. apiculata; A. baillonii; A. banaensis; A.beccariana; A. brachyantha; A. citrinicarpa; A. crassna; A. cumingiana;A. filaria; A.grandiflora; A. hirta; A. malaccensis; A. microcarpa; A.ophispermum; A. parvifolia; A. pentandra; A. rostrata; A. sinensis; A.subintegra; A. urdanetensis; A. yunnanensis. Dari 22 spesies itu, yang bisa terinfeksi kapang Phialophora parasitica hanya ada delapan spesies yakni: A.agallocha; A. crassna; A. grandiflora; A. malaccensis; A. ophispermum;A. pentandra; A. sinensis; dan Aquilaria yunnanensis. Dari delapan spesies itu, yang paling potensial menghasilkan gaharu adalah A. malaccensis dan A. agallocha.

Gaharu yang sekarang beredar di pasaran, semuanya berasal dari perburuan dari hutan. Para pencari gaharu, kadang-kadang tidak membedakan, mana kayu yang ada gubalnya, dan mana yang tidak. Hingga semua pohon Aquilaria yang dijumpai akan ditebang. Akibatnya, populasi kayu Aquilaria terus terkikis dan makin langka. Dalam pertemuan ke 13 Convention on International Trade in EndangeredSpecies of Wild Fauna and Flora (CITES CoP 13) di Bangkok, Thailand, 2-14 Oktober 2004, genus Aquilaria telah dimasukkan dalam apendik II.Hingga pengambilan gaharu dari alam, sebenarnya dilarang. Tetapi karena tingginya nilai gaharu, maka pencarian gaharu dari hutan terus berlangsung tanpa bisa dicegah.

Genus Aquilaria adalah pohon dengan tinggi mencapai 20 m dan diameter batang 60 cm, yang tumbuh di hutan hujan tropika basah, mulai dari ketinggian 0 sampai dengan 1.000 m. dpl. Aquilaria bisa hidup pada berbagai jenis tanah. Mulai dari tanah humus, berpasir, lempung, berkapur, sampai berbatu-batu. Gaharu termasuk tanaman yang tahan kekeringan, dan juga tahan hidup di bawah naungan.Tanaman yang masih muda, memang memerlukan banyak air, dan naungan.Biasanya Aquilaria tumbuh di bawah tajuk palem atau pakis-pakisan.Aquilaria berkembangbiak dari biji. Buah Aquilaria berupa polong yangkeras, dengan panjang antara 2,5 sd. 3 cm. Biji mudah dikecambahkan ditempat yang lembap dan hangat, tetapi terlindung dari panas matahari.

# # #

Dalam kondisi optimum, pohon Aquilaria akan mampu tumbuh dengan sangat pesat.Yang dimaksud dengan kondisi optimum adalah, suhu udara, kelembapan,sinar matahari, air dan unsur haranya cukup. Meskipun Aquilaria tahan hidup di berbagai macam tanah, tetapi dia akan tumbuh optimal di tanah humus yang subur, dengan topsoil cukup tebal. Tidak semua Aquilaria yang tumbuh di hutan merupakah penghasil gaharu. Produk gaharu, baru akan terjadi, apabila kayu Aquilaria terinfeksi oleh kapang Phialophoraparasitica. Tumbuhan Aquilaria yang tidak terinfeksi kapang Phialophoraparasitica, hanya akan menjadi kayu biasa yang sama sekali tidak harum.Beda dengan cendana (Sandal Wood, Santalum album), yang kayunya memang sudah harum.

Untuk mempertahankan diri, tumbuhan Aquilaria yang sudah terinfeksi kapang Phialophora parasitica akan menghasilkan getah resin (jawa: blendok). Resin ini akan menggumpal dan membentuk gubal. Proses pembentukan gubal berlangsung sangat lambat. Bisa puluhan bahkan ratusan tahun. Resin dan bagian kayu yang terinfeksi inilah yang akan menghasilkan aroma harum yang tidak ada duanya di dunia. Aroma gaharu ini sedemikian khasnya hingga hampir tidak mungkin disintetis. Pembuatan gaharu sintetis, hasilnya akan lebih mahal dibanding dengan gaharu alam. Proses pembentukan gubal berlangsung sangat lama, juga merupakan salah satu penyebab tingginya produk gaharu.

Kapang genus Phialophora terdiri dari delapan spesies aktif: Phialophora americana, Phialophora bubakii, Phialophora europaea, Phialophora parasitica, Phialophora reptans, Phialophora repens, Phialophora richardsiae, dan Phialophora verrucosa. Dari delapan spesies itu, yang berfungsi menginfeksi kayu Aquilaria hanyalah kapang Phialophora parasitica. Spesieslainnya merupakan kapang patogen, yang bisa menginfeksi manusia dan menimbulkan gangguan penyakit. Malaysia dan Indonesia, sudah bisa mengisolasi kapang Phialophora parasitica, untuk diinokulasikan kepohon Aquilaria.

Di Indonesia, penelitian gaharu antara lain dilakukan oleh Balitbang Botani/LIPI, Badan Litbang Departemen Kehutanan dan Universitas Mataram di Mataram, Lombok. UniversitasMataram, malahan sudah melakukan ujicoba penanaman gaharu, dan menginfeksinya dengan kapang Phialophora parasitica. Sayangnya, tanaman yang belum membentuk gubal itu sudah dicuri orang. Para pencuri ini beranggapan, bahwa kayu gaharu sama dengan cendana. Padahal cendana pun memerlukan waktu paling sedikit 30 tahun agar meghasilkan kayu dengan tingkat keharuman prima. Gaharu yang sudah terinfeksi ini, masih memerlukan waktu puluhan tahun agar gubalnya bisa dipanen.

# # #

Mengingat tingginya nilai gaharu, dan juga kelangkaannya, maka budidaya gaharu sudah semakin mendesak. Membuat hutan Aquilaria, bisa dilakukan dengan mudah. Sebab tumbuhan genus ini relatif mudah dikembangbiakkan dan tolerandengan lokasi tumbuh yang sangat ekstrim sekalipun. Mengisolasi kapang Phialophora parasitica jugasudah bisa dilakukan di laboratorium Universitas Mataram. Menginfeksi tumbuhan Aquilaria dengan kapang Phialophora parasitica juga sudah berhasil diketemukan metodenya. Yang menjadi masalah, untuk mengembangkannya dalam skala komersial, diperlukan jangka waktu lama. Gaharu kualitas baik, baru akan terbentuk setelah proses selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Para pemilik modal, akan berpikir ulang kalau investasinya baru akan kembali pada puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang. Para pejabat dilingkup pemerintah daerah pun, juga akan menolak untuk merancang proyek yang tingkat keberhasilannya baru akan bisa diukur puluhan bahkan ratusan tahun kemudian. Belum lagi gangguan masyarakat yang tidak terlalu tahu tentang gaharu. Mereka menganggap bahwa tanaman Aquilaria yang sudah diinfeksi kapang Phialophora parasitica, akan segera bisa ditebang untuk diambil gaharunya. Ketidaktahuan masyarakat ini, juga disebabkan oleh sedikitnya publikasi tentang gaharu. Para wartawan yang mengenal gaharu, jumlahnya juga masih sangat sedikit.

Dalam situasi seperti ini, pencarian gaharu di hutan menjadi satu-satunya alternatif. Di Papua, pencarian gaharu bahkan dilakukan oleh para pengusaha dengan cara yang sangat tidak bermoral.Para pengusaha tahu bahwa masyarakat Papua, sudah kecanduan minuman keras. Hanya dengan disodori beberapa kaleng bir, mereka sudah bersedia untuk mencari gaharu. Apabila gaharu sudah diperoleh, para pengusaha pun menawarkan perempuan kepada penemu gaharu. Perempuan-perempuan malang ini didatangkan dari Jawa, kebanyakan dengan cara ditipu untuk dicarikan pekerjaan yang layak di Freeport atau perusahaan HPH. Setibanya di Papua, mereka hanya dijadikan umpan memperoleh gaharu. (R) # # #

 

sumber disini